Tak Termiliki - Rossa
Ku lihat diriku
Ku baca hatiku
Tiada yang lain
Yang tersirat
Ku lihat dirimu
Kau tak sendiri
Masih bolehkah
Harap ini
Engkau datang
Saat aku merasa tak ada
Engku ada
Saat ku tak mungkin ada di sana
Engkau datang
Saat diri ini tak ingin pergi
Engkau ada
Dengan setangkai cinta tak termiliki
Oh mengapa saat kita berdua
Semua terasa indah
Seakan kau untukku
Seakan kau Untukku
Sungguh orang yang aneh dan menyebalkan. Kemaren dia datang ke kantorku hanya untuk menghakimi kami dengan sifat-sifat buruk kami. Tentu saja kami tahu bahwa sebagian besar yang dia ramalkan itu benar. Tapi bukan haknya untuk menghakimi kami seperti itu. Tapi benarkah dia yang aneh? Bukannya kami yang memintanya untuk meramal kami? Membaca sifat-sifat kami? Sudahlah, apapun itu dia memang menyebalkan. Namanya Ariv, aku tidak tahu nama panjangnya, mungkin Arifin atau Suarif ato Paijoriv entahlah. Yang jelas itu tidak penting, setidak penting orang itu sendiri. Hari itu atasan kami memang memanggil seorang jasa konsultan psikologis untuk memberikan pengarahan kepada kami tentang kinerja yang baik dan benar. Tidak formal hanya untuk menambah motivasi kami terhadap pekerjaan kami sehari-hari, jadi kami bersama-sama duduk diruang meeting untuk di training, kami bertiga aku, Nelia dan Agustin. Sebenarnya training bukan kata yang tepat, yang lebih tepat adalah di RAMAL.
Satu persatu dari kami di nilai, di ramal dan di tafsir sesuai dengan tulisan, tanda tangan, dan juga tanggapan kami terhadap sesuatu. Tentu saja itu menarik buat kami, buatku khususnya. Lebih sulit menilai diri sendiri daripada orang lain, mumpung ada penilai gratis harus di manfaatkan sebaik-baiknya dan seefisien mungkin. Menurut si Ariv-maaf bila aku malas menyebutnya pak Ariv-karena dia masih bau kencur, kunyit dan juga jahe alias masih muda, bahwa karakter manusia bisa di baca dari suku asal, cara berpakaian, cara berfikir, cara berargumen dan lain-lain. Mulailah dia menilai satu persatu dari kami. Inilah garis besar penilaiannya tentangku :
1. Bossy alias suka memerintah alias malas
2. Pesimis
3. Menang sendiri
4. Sombong
5. Sinis
6. Keras Kepala
7. Suka membicarakan orang
8. Boros
9. Sok tahu
10. Tidak sabaran
11. Tidak perduli dengan orang lain
Kurasa dia sudah puas dengan dirinya sendiri dengan penilaiannya yang tidak akurat itu. Tapi disisi lain dari diriku mengatakan sepertinya list di atas terlihat seperti aku. Tapi kenapa tidak pernah ada yang mengeluh dengan sifatku? Apa mereka mengatakannya dibelakangku?. Ada seseorang pepatah mengatakan “Jangan khawatir tentang perkataan orang dibelakangmu, karena dengan itu kamu tahu bahwa kamu dua langkah lebih baik dari mereka”. Jadi tentang perkataan orang di belakangku bukan masalah buatku, tapi akan lebih baik jika mereka mengatakannya langsung. Tapi tetap saja salah ada pada si Ariv dengan penilaiannya itu.
Keanehan yang aku rasakan adalah kenapa dia jadi sering datang ke kantor kami. Kupikir penilaian tentang kami berakhir di hari itu juga tapi dia masih datang lagi. Kami bertiga memasang tampang sebal di hadapannya. Tapi dia malah tersenyum manis kepada kami. Itu terhitung keanehan kedua.
“Kenapa Kak Irena? Kok manyun aja liat saya datang” Pliss Tuhan, dia hanya 2 bulan lebih tua dariku, kenapa sok imut begitu???
“Ah biasa ajah” ku jawab seadanya
„Oh biasanya memang semanyun itu ya? Pantesan” Urgh.... Dasar!!!. Seandainya dia semut, sudah ku injak-injak badannya. Tapi senyumnya tetap manis dan terkendali. Jadi kucoba mengendalikan ekspresi wajahku yang biasanya selalu gagal kusembunyikan.
„Maaf Kak, saya Cuma bercanda. Adik bercanda sama kakak kan biasa” Baiklah dik, sini kakak iris mulut manismu itu. Suaranya yang nyaris tak terdengar itu selalu mengeluarkan kata-kata yang lembut meski kadang makna didalamnya seperih bagai tertusuk duri.
„ Ngapain kesini lagi Riv?” Tanyaku berlagak perduli
„Nenemin bos kak, sekarang saya jadi asisten tangan kanan bos” Oh my God. Bencana apa lagi ini?
Tanpa basa-basi lagi aku biarkan dia berbicara sendiri sembari aku melanjutkan pekerjaanku. Hari dia pergi dengan selamat aman lancar tanpa hambatan. Syukurlah, Aman sedikit dunia ini. Setidaknya untuk hari ini, karena besok dia akan datang lagi dan besoknya lagi juga datang.
Sejak hari itu si tangan kanan atasan kami yang baru itu selalu datang setiap kali atasan kami datang, meski tidak setiap hari tapi itu cukup mengganggu karena kami harus-maksudnya aku-harus berbagi konsentrasi dengan beberapa hal yaitu : pekerjaan kami yang harus cepat selesai, sikap si pembaca sikap yang menyebalkan itu, senyum manis orang yang menyebalkan itu, dan tutur kata lembutnya, pesonanya, tampan wajahnya???? Kenapa hal ini semakin rumit? Peniaian buruk itu menjadi berbanding terbalik? Jadi pertanyaannya siapa yang aneh? Sepertinya aku ikut menjadi aneh, atau dari pertama memang hanya aku yang aneh?. Teman-temanku mulai mencium gelagat yang mencurigakan dariku yang baru aku sadari hari ini.
“Na, lo naksir sama si Arifulloh itu?” Nelia mulai mencari pembenaran atas kecurigaannya
“Emang namanya itu ya Nel?” tanyaku menghiraukan pertanyaannya
“Udah jangan menyembunyikan kenyataan, ibaratnya gue kan cuman menanyakan kejujuran loe ajah”
“Emang apa yang kalian liat?” tanyaku lagi
“Yeah luput loe Na, jelas-jelas loe naksir dia. Ngaku ajah deh” Si Nelia mempertahankan asumsinya
“Kamu tuh sering ngomel-ngomel tanpa sebab ke si Ariv, nanti lama-lama suka lho” Si Agustin yang bijaksana menghakimi dengan baik dan benar
“Apaan siy? Gak jelas...” dengan santai aku pergi meninggalkan dua manusia yang terluka itu. Maksudnya yang terluka dengan pertanyaan yang tak terjawab itu.
Tapi kenyataan yang pahit ini memang membawaku ke arah sana. “Rasa” itu ada dengan jelas di mata namun sekuat tenaga aku tutupi. Tapi harus kuakui sejujurnya, dilihati dari aspek manapun Ariv memang indah. Mendekati sempurna mengingat tidak ada manusia yang sempurna. Tampan, Sabar, rajin beribadah, manis, dan banyak hal lain yang positif yang enggan kuakui. Mungkin benar ini cinta. Atau rasa sejenisnya. Yang jelas aku harus membatasinya. Harus.
Semakin hari semakin aneh, karena Ariv tidak lagi muncul di kantor. Jangankan menanyakan kepada yang lain, menyebut namanya saja aku malu. Tapi sudah sebulan dia tidak lagi datang membuatku semakin tersiksa, meski saat dia datang aku hanya ingin dapat melihat senyum manisnya. Tak berani berharap lebih. Demi kesehatan jasmani dan rohani selugas mungkin kutanyakan pada atasanku (yang dulu teman sekelasku, jadi tidak ada segan tidak ada bimbang). Melihat kondisi mood nya lagi baik.
„Pak, si Ariv kemana kok nggak pernah datang lagi? Masih hidup kan dia” tanyaku sebiasa mungkin
„Oooh masih, kenapa tanya?”
„Gak ada, aneh aja kok gak pernah datang lagi”
„Dia lagi ada masalah pribadi, biarlah tenang dulu jangan di ganggu”
„o0o0ohhh siapa juga yang mau ngganggu, orang tanya aja kok” Atasanku kembali bekerja dan mengacuhkanku. Dengan enggan ku langkahkan kakiku keluar ruangannya.
Masalah pribadi? Sungguh orang yang aneh. Seharusnya dia berbagi dengan kami biar tidak menjadi bebannya sendiri. Tapi untuk apa dia berbagi dengan kami? Bukannya dia seharusnya bisa mengendalikan diri dengan kemampuan psikolog yang dia punya?. Tapi dokter saja tidak bisa menyembuhkan penyakit mereka sendiri, sama juga dengan psikolog. Kurasa begitu.
Hari-hari sepi tanpamu. Namuan harus kuhadapi, bukannya kekasihku juga selalu ada menemani? Nistanya aku ini mencintai orang lain di atas penderitaan kekasihku? Tapi semakin besar aku sembunyikan rasa ini semakin sakit hati ini, bagai tertusuk duri. Maafkan kekasihku, kali ini ijinkan aku menikmati rasa ini, meski kami tak bisa bersatu. Pada kenyataanya rasa ini hanya kusimpan sendiri. Syukurlah dia menghilang sehingga aku bisa menyembuhkan luka ini sendiri tanpa ada yang menyadari. Dan mungkin benar bahwa aku tidak perduli dengan orang lain, bahkan aku baru menyadari bahwa musim disini sama sekali tidak bisa di prediksi, hanya bisa di jalani. Hal kecil yang baru kumengerti.
Seminggu... dua minggu... tiga minggu...
Minggu ketiga setelah hampir dua bulan tak muncul, tiba-tiba hari ini dia datang. Dengan wajah biasa, tak ada masalah. Datar. Seperti biasa dia mampir ke mejaku sebelum masuk ke ruangan atasanku.
“Kak... gimana kabarnya?” Sambil menyunggingkan senyum manis yang seperti sudah bertahun-tahun kurindukan
“Biasa ajah, kamu gimana?” jawabku malas
„Tumben nanya?”
„oh, forget it” jawabku, sepertinya wajahku sedikit memerah menahan marah
„Yeah khan, gak perduli sama orang lain?”
“ya kamunya ditanyain malah gitu”
“Oh aku sehat disini” Sambil menunjuk kebadannya „tapi gak sehat disini” sambil menunjuk ke dadanya.
„Oh...” Lalu dia berlalu
Dasar gila dan aneh.
Penat denga pekerjaan hari ini, sesampai dirumah aku langsung berbaring santai dikasur kesayanganku yang mulai lusuh. Kututup mataku sejenak agar dapat sedikit saja terlelap dalam tidur, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
„Hi kak” Ariv menampakkan batang hidungnya
“Eh tumben? Ada apa kesini”
“Ada yang mau saya omongin kak, kalo saya diijinkan masuk”
“Kita ngobrol diluar aja yah, karena kursinya semua ada diteras” Dengan patuh dia mundur beberapa langkah dan mendatangi kursi kayu di teras
Kali ini wajahnya serius, tapi tetap tenang, kalem dan ramah seperti biasanya.
„Bos bilang, kamu tanyain aku waktu aku gak dateng?” Kamu? Sejak kapan kata-kata sok imut „kakak” itu berganti tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?.
„Ummm iseng-iseng ajah siy” Bibirnya tersungging dengan senyum sarkatis
“Aku kesini mau jelasin sesuatu. Mungkin ini pertama dan terakhir kalinya aku dateng” Lebih serius lagi „mungkin kalo aku omongin semua yang aku pengen omongin ini malah bikin semuanya jadi keruh tapi emang harus aku omongin supaya aku gak gila” Makin serius dan sudah mendekati gila. Anehnya aku seperti bisu, kelu tapi tetap fokus mendengarkan. „Dari 11 penilaianku ke kamu waktu itu, tiap harinya jadi berbanding terbalik satu persatu” sudah benar-benar gila, apa yang dia bicarakan? Kenapa dia menggunakan bahasa yang sulit dicerna oleh telinga telanjang? Tapi aku tetap diam menghargai usahanya untuk mengungkapkan isi hatinya. Dia menjelaskan bahwa terbaliknya penilaian itu menurutnya adalah karena kesombongannya, dan semua itu berbalik seperti di bawah ini:
1. Bossy alias suka memerintah alias malas >< berjiwa pemimpin 2. Pesimis >< Berpikir positif 3. Menang sendiri >< Pintar berargumen 4. Sombong >< Bisa menempatkan diri 5. Sinis >< Teliti menilai orang 6. Keras Kepala >< Berprinsip 7. Suka membicarakan orang >< Berkaca pada kesalahan orang lain 8. Boros >< Menikmati hidup 9. Sok tahu >< Berasumsi 10. Tidak sabaran >< Perfeksionis 11. Tidak perduli dengan orang lain >< Kurang perhatian pada sekitar
Dia melanjutkan... sepertinya akan lebih mendalam lagi
“Aku gak bisa membendung perasaan aku, betapapun aku coba tetap gak bisa. Makanya aku pergi. Untuk tau kamu udah punya tunangan, terasa seperti menumpahkan jeruk nipis di luka teriris dihatiku, tapi ya sudahlah itu harus aku hadapi. Karena itu aku pergi. Dan hari ini aku datang kesini bukan buat memohon belas kasihan dan mengharapkan cinta kamu. Tapi aku Cuma pengen kamu tahu. Itu aja” Kan.. sudah kuduga akan berakhir pahit, tak terasa air mataku menetes, deras dan semakin deras.
Ariv datang menghampiriku dan mengusap air mata yang terlanjur jatuh. Terbata-bata aku berkata “apapun yang kamu pikir tentang aku, rasa itu juga ada di aku. Juga sakit itu”.
„Aku tau... tapi aku gak akan bikin ini sulit buat kami. Kamu gak harus memilih”
„Kamu tahu?”
„ya”
„Maaf” kataku
Dia tersenyum pahit
„Bukan salah kamu, aku terlambat datang membawa cinta yang tak termiliki”
Dan dia pergi, mungkin takkan kembali. Sakit, akhirnya kita berdua sakit. Perih, hanya perih yang kurasa saat jatuh cinta dan di abaikan cinta. Meskipun aku sudah ada yang punya.
iegha-
bagus..bagus..
ReplyDeletewahhh igha ajarin mbah nulis dong...
Keep writing Igha...
hihihi bule @tanti... thanks buangeed... motivate me to write more and more.. Thanks alot
ReplyDelete@anonymous pasti neli niy:
nel.. good nel... setiap novel pasti ada story of love na.. love kan gk ada matinye.. hihihi
Thanks both for the comment!
hahahahaah....
ReplyDeleteCerpen na kena juga, lumayan kocok perut ku
likes ma kata2 plesetan na:
1. menyunggingkan senyum manis
2. sini kakak iris mulut manis mu itu("pelan tapi menusu" wkwwkwkwk)
3. tersungging, DLL
mbk banyak baca story of love yah... di bagian feeling na 'gud
i have idea in word : pepatah nya "gak kuku"
well, jalan ceritanya bagus, gha,, juga bahasa ceritanya. dari dulu sejak kuliah aku emang tau kamu bakat menulis. selalu punya istilah-istilah keren. hehe...
ReplyDeletekritikannya cuma 1. di tata penulisan bahasa indonesia. jadi bakat menulis ini har...us diimbangi dengan aturan penulisannya ya gha.
contoh: untuk kata depan 'di' harus dipisahkan dengan kata berikutnya ex: di kasur, bukan 'dikasur'
sedangkan untuk imbuhan 'di' disatukan dengan kata dasarnya . ex: diramal bukan 'di ramal'
trus pemakaian tanda kutip. gunakan tandakutip dobel (") untuk kalimat langsung percakapan, dan tandakutip single(') untuk menekankan suatu kata...
hhehehee, banyak baca tata penulisan bahasa indonesia ya gha..
but overall, bagus banget untuk kelas pemula... keep writing
@Nyezt:
ReplyDeleteaku baru tau kalo kata depan sama imbuhan itu beda,,, thanks alot
Nah kalo kutip aku lupa-lupa inged siy... tp thanks for remind me
Yupp.. aku baca2 lagi cara penulisan tata bahasa bu.. belajar lagi deh,,, nothing late about learning kan,,, ;) thanks
hm... miris baca nya,tp lumayan lah buat pemula... plg ngk tau isi cerita nya... satu jempol buat si ibu... laen kali bikin cerpen nya yg happy ending ya biar ngk miris aku baca nya... good luck... sapa tau bisa jd skenario FTV...
ReplyDeletewakakkka....
ReplyDeletekacau kacau...hahahaha
kw tau ga` aq g ngapain ni...
`aq lgi ketawa2 mau mati ni wakakak`
gw bca blom fokus ni... ntar setiap bait gw koment posting lo ga` he...
@nenek : haha aku juga pengen happy ending terakhirnya.. ya udah tar aku bikin yang "Seakan kau untukku II" ya,,, hahaha
ReplyDelete@Ariv: lah ini kok nama karakter fiksi ku ikot komen?? tapi hanya kesamaan nama, Note yah : "cerita ini adalah fiksi belaka, kesamaan nama dan karakter adalah tanpa unsur kesengajaan" hahaha...
jangan mati doeloe.. tunggu yang seri kedua yah.. hahahaha!!!
alur ceritanya baguss.. Aq suka inspirasinya yg 11 penilaian terbalik.. mempunyai makna yg dalam.. tapi aq berharap cinta mrk berdua < Ariv dan Irena> bisa di satu kayak cerita cinta fitri.. meski Shireen udah punya Pacar Aldy Fairuz.. tp karena dalam sinetron dia menjadi istri farreL selama 3 tahun... akhirnya cinta tidak bisa di bohongi.. klo pepatah jawa mengatakan "waitting tresno jalaran soko kulino".. tp yg namanya CINTA memang harus di perjuangkan.. karena pernikahan tanpa rasa cinta bagaikan sayur tanpa garam? betul gak... Kayaknya 'iegha' berbakat jadi penulis cerita seperti ini atau mungkin pengalaman pribadi kalii..Hmmm..
ReplyDeleteKarena ceritanya banyak terjadi dalam kehidupan seperti sekarang ini yang serba bebas yaitu; 'perselingkuhan perasaan hati'.. ydh selamat berkarya semoga sukses selalu buat iegha jgn lupa kewajiban utamanya sebagai ibu RT... good job.. ditunggu episode selanjutnya..^0^
hahaha... cinta fitri pula di bawa mas..
ReplyDeleteaku gk sk yang serba bebas itu.. dont like that... hiks..
Thanks AJKK comment na mas...
mna mbk seri k2 na akuh belum baccaaaaaaaaaaa?
ReplyDeletehehehe... sabar... masih blm mood :p
ReplyDelete