When you have a wild imagination, you definitely needs to write it. Maybe not necessary for some people. At least it's good for your own self to throw them away from your mind.. so you'll feel relief.

Thursday, 9 June 2011

Ignore Me


"I wish to fly to your heart and stab it"

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Monday, 6 June 2011

Friends & Flood

Dream

I hate a bad dream. But I had to forget any dream I had when I woke up. So I think I will write every dream I have (If I remember) ;).

1. This morning I dreamed about my friend, I mean we were closed but just friend. He had married my other friend actually. And I dream that we were spend time together and once we on the way went back, my other friend found us together, what a sick dream. I just feel bad. But thanks GOD it was just a dream

 2. And I don't know why and how (it's normal to have mixed dreams), after that I dream about carried one of my baby in a huge flood. But we made it in safe because we hold something. I was glad to woke up but then my body feel so tired

pic credit to : free-extras.com

Tuesday, 23 November 2010

Seakan kau Untukku

Tak Termiliki - Rossa

Ku lihat diriku
Ku baca hatiku
Tiada yang lain
Yang tersirat

Ku lihat dirimu
Kau tak sendiri
Masih bolehkah
Harap ini

Engkau datang
Saat aku merasa tak ada
Engku ada
Saat ku tak mungkin ada di sana

Engkau datang
Saat diri ini tak ingin pergi
Engkau ada
Dengan setangkai cinta tak termiliki

Oh mengapa saat kita berdua
Semua terasa indah
Seakan kau untukku


Seakan kau Untukku

Sungguh orang yang aneh dan menyebalkan. Kemaren dia datang ke kantorku hanya untuk menghakimi kami dengan sifat-sifat buruk kami. Tentu saja kami tahu bahwa sebagian besar yang dia ramalkan itu benar. Tapi bukan haknya untuk menghakimi kami seperti itu. Tapi benarkah dia yang aneh? Bukannya kami yang memintanya untuk meramal kami? Membaca sifat-sifat kami? Sudahlah, apapun itu dia memang menyebalkan. Namanya Ariv, aku tidak tahu nama panjangnya, mungkin Arifin atau Suarif ato Paijoriv entahlah. Yang jelas itu tidak penting, setidak penting orang itu sendiri. Hari itu atasan kami memang memanggil seorang jasa konsultan psikologis untuk memberikan pengarahan kepada kami tentang kinerja yang baik dan benar. Tidak formal hanya untuk menambah motivasi kami terhadap pekerjaan kami sehari-hari, jadi kami bersama-sama duduk diruang meeting untuk di training, kami bertiga aku, Nelia dan Agustin. Sebenarnya training bukan kata yang tepat, yang lebih tepat adalah di RAMAL.

Satu persatu dari kami di nilai, di ramal dan di tafsir sesuai dengan tulisan, tanda tangan, dan juga tanggapan kami terhadap sesuatu. Tentu saja itu menarik buat kami, buatku khususnya. Lebih sulit menilai diri sendiri daripada orang lain, mumpung ada penilai gratis harus di manfaatkan sebaik-baiknya dan seefisien mungkin. Menurut si Ariv-maaf bila aku malas menyebutnya pak Ariv-karena dia masih bau kencur, kunyit dan juga jahe alias masih muda, bahwa karakter manusia bisa di baca dari suku asal, cara berpakaian, cara berfikir, cara berargumen dan lain-lain. Mulailah dia menilai satu persatu dari kami. Inilah garis besar penilaiannya tentangku :

1. Bossy alias suka memerintah alias malas
2. Pesimis
3. Menang sendiri
4. Sombong
5. Sinis
6. Keras Kepala
7. Suka membicarakan orang
8. Boros
9. Sok tahu
10. Tidak sabaran
11. Tidak perduli dengan orang lain

Kurasa dia sudah puas dengan dirinya sendiri dengan penilaiannya yang tidak akurat itu. Tapi disisi lain dari diriku mengatakan sepertinya list di atas terlihat seperti aku. Tapi kenapa tidak pernah ada yang mengeluh dengan sifatku? Apa mereka mengatakannya dibelakangku?. Ada seseorang pepatah mengatakan “Jangan khawatir tentang perkataan orang dibelakangmu, karena dengan itu kamu tahu bahwa kamu dua langkah lebih baik dari mereka”. Jadi tentang perkataan orang di belakangku bukan masalah buatku, tapi akan lebih baik jika mereka mengatakannya langsung. Tapi tetap saja salah ada pada si Ariv dengan penilaiannya itu.

Keanehan yang aku rasakan adalah kenapa dia jadi sering datang ke kantor kami. Kupikir penilaian tentang kami berakhir di hari itu juga tapi dia masih datang lagi. Kami bertiga memasang tampang sebal di hadapannya. Tapi dia malah tersenyum manis kepada kami. Itu terhitung keanehan kedua.
“Kenapa Kak Irena? Kok manyun aja liat saya datang” Pliss Tuhan, dia hanya 2 bulan lebih tua dariku, kenapa sok imut begitu???
“Ah biasa ajah” ku jawab seadanya
„Oh biasanya memang semanyun itu ya? Pantesan” Urgh.... Dasar!!!. Seandainya dia semut, sudah ku injak-injak badannya. Tapi senyumnya tetap manis dan terkendali. Jadi kucoba mengendalikan ekspresi wajahku yang biasanya selalu gagal kusembunyikan.
„Maaf Kak, saya Cuma bercanda. Adik bercanda sama kakak kan biasa” Baiklah dik, sini kakak iris mulut manismu itu. Suaranya yang nyaris tak terdengar itu selalu mengeluarkan kata-kata yang lembut meski kadang makna didalamnya seperih bagai tertusuk duri.
„ Ngapain kesini lagi Riv?” Tanyaku berlagak perduli
„Nenemin bos kak, sekarang saya jadi asisten tangan kanan bos” Oh my God. Bencana apa lagi ini?
Tanpa basa-basi lagi aku biarkan dia berbicara sendiri sembari aku melanjutkan pekerjaanku. Hari dia pergi dengan selamat aman lancar tanpa hambatan. Syukurlah, Aman sedikit dunia ini. Setidaknya untuk hari ini, karena besok dia akan datang lagi dan besoknya lagi juga datang.

Sejak hari itu si tangan kanan atasan kami yang baru itu selalu datang setiap kali atasan kami datang, meski tidak setiap hari tapi itu cukup mengganggu karena kami harus-maksudnya aku-harus berbagi konsentrasi dengan beberapa hal yaitu : pekerjaan kami yang harus cepat selesai, sikap si pembaca sikap yang menyebalkan itu, senyum manis orang yang menyebalkan itu, dan tutur kata lembutnya, pesonanya, tampan wajahnya???? Kenapa hal ini semakin rumit? Peniaian buruk itu menjadi berbanding terbalik? Jadi pertanyaannya siapa yang aneh? Sepertinya aku ikut menjadi aneh, atau dari pertama memang hanya aku yang aneh?. Teman-temanku mulai mencium gelagat yang mencurigakan dariku yang baru aku sadari hari ini.
“Na, lo naksir sama si Arifulloh itu?” Nelia mulai mencari pembenaran atas kecurigaannya
“Emang namanya itu ya Nel?” tanyaku menghiraukan pertanyaannya
“Udah jangan menyembunyikan kenyataan, ibaratnya gue kan cuman menanyakan kejujuran loe ajah”
“Emang apa yang kalian liat?” tanyaku lagi
“Yeah luput loe Na, jelas-jelas loe naksir dia. Ngaku ajah deh” Si Nelia mempertahankan asumsinya
“Kamu tuh sering ngomel-ngomel tanpa sebab ke si Ariv, nanti lama-lama suka lho” Si Agustin yang bijaksana menghakimi dengan baik dan benar
“Apaan siy? Gak jelas...” dengan santai aku pergi meninggalkan dua manusia yang terluka itu. Maksudnya yang terluka dengan pertanyaan yang tak terjawab itu.

Tapi kenyataan yang pahit ini memang membawaku ke arah sana. “Rasa” itu ada dengan jelas di mata namun sekuat tenaga aku tutupi. Tapi harus kuakui sejujurnya, dilihati dari aspek manapun Ariv memang indah. Mendekati sempurna mengingat tidak ada manusia yang sempurna. Tampan, Sabar, rajin beribadah, manis, dan banyak hal lain yang positif yang enggan kuakui. Mungkin benar ini cinta. Atau rasa sejenisnya. Yang jelas aku harus membatasinya. Harus.

Semakin hari semakin aneh, karena Ariv tidak lagi muncul di kantor. Jangankan menanyakan kepada yang lain, menyebut namanya saja aku malu. Tapi sudah sebulan dia tidak lagi datang membuatku semakin tersiksa, meski saat dia datang aku hanya ingin dapat melihat senyum manisnya. Tak berani berharap lebih. Demi kesehatan jasmani dan rohani selugas mungkin kutanyakan pada atasanku (yang dulu teman sekelasku, jadi tidak ada segan tidak ada bimbang). Melihat kondisi mood nya lagi baik.
„Pak, si Ariv kemana kok nggak pernah datang lagi? Masih hidup kan dia” tanyaku sebiasa mungkin
„Oooh masih, kenapa tanya?”
„Gak ada, aneh aja kok gak pernah datang lagi”
„Dia lagi ada masalah pribadi, biarlah tenang dulu jangan di ganggu”
„o0o0ohhh siapa juga yang mau ngganggu, orang tanya aja kok” Atasanku kembali bekerja dan mengacuhkanku. Dengan enggan ku langkahkan kakiku keluar ruangannya.
Masalah pribadi? Sungguh orang yang aneh. Seharusnya dia berbagi dengan kami biar tidak menjadi bebannya sendiri. Tapi untuk apa dia berbagi dengan kami? Bukannya dia seharusnya bisa mengendalikan diri dengan kemampuan psikolog yang dia punya?. Tapi dokter saja tidak bisa menyembuhkan penyakit mereka sendiri, sama juga dengan psikolog. Kurasa begitu.

Hari-hari sepi tanpamu. Namuan harus kuhadapi, bukannya kekasihku juga selalu ada menemani? Nistanya aku ini mencintai orang lain di atas penderitaan kekasihku? Tapi semakin besar aku sembunyikan rasa ini semakin sakit hati ini, bagai tertusuk duri. Maafkan kekasihku, kali ini ijinkan aku menikmati rasa ini, meski kami tak bisa bersatu. Pada kenyataanya rasa ini hanya kusimpan sendiri. Syukurlah dia menghilang sehingga aku bisa menyembuhkan luka ini sendiri tanpa ada yang menyadari. Dan mungkin benar bahwa aku tidak perduli dengan orang lain, bahkan aku baru menyadari bahwa musim disini sama sekali tidak bisa di prediksi, hanya bisa di jalani. Hal kecil yang baru kumengerti.

Seminggu... dua minggu... tiga minggu...
Minggu ketiga setelah hampir dua bulan tak muncul, tiba-tiba hari ini dia datang. Dengan wajah biasa, tak ada masalah. Datar. Seperti biasa dia mampir ke mejaku sebelum masuk ke ruangan atasanku.
“Kak... gimana kabarnya?” Sambil menyunggingkan senyum manis yang seperti sudah bertahun-tahun kurindukan
“Biasa ajah, kamu gimana?” jawabku malas
„Tumben nanya?”
„oh, forget it” jawabku, sepertinya wajahku sedikit memerah menahan marah
„Yeah khan, gak perduli sama orang lain?”
“ya kamunya ditanyain malah gitu”
“Oh aku sehat disini” Sambil menunjuk kebadannya „tapi gak sehat disini” sambil menunjuk ke dadanya.
„Oh...” Lalu dia berlalu
Dasar gila dan aneh.

Penat denga pekerjaan hari ini, sesampai dirumah aku langsung berbaring santai dikasur kesayanganku yang mulai lusuh. Kututup mataku sejenak agar dapat sedikit saja terlelap dalam tidur, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
„Hi kak” Ariv menampakkan batang hidungnya
“Eh tumben? Ada apa kesini”
“Ada yang mau saya omongin kak, kalo saya diijinkan masuk”
“Kita ngobrol diluar aja yah, karena kursinya semua ada diteras” Dengan patuh dia mundur beberapa langkah dan mendatangi kursi kayu di teras
Kali ini wajahnya serius, tapi tetap tenang, kalem dan ramah seperti biasanya.
„Bos bilang, kamu tanyain aku waktu aku gak dateng?” Kamu? Sejak kapan kata-kata sok imut „kakak” itu berganti tanpa pemberitahuan terlebih dahulu?.
„Ummm iseng-iseng ajah siy” Bibirnya tersungging dengan senyum sarkatis
“Aku kesini mau jelasin sesuatu. Mungkin ini pertama dan terakhir kalinya aku dateng” Lebih serius lagi „mungkin kalo aku omongin semua yang aku pengen omongin ini malah bikin semuanya jadi keruh tapi emang harus aku omongin supaya aku gak gila” Makin serius dan sudah mendekati gila. Anehnya aku seperti bisu, kelu tapi tetap fokus mendengarkan. „Dari 11 penilaianku ke kamu waktu itu, tiap harinya jadi berbanding terbalik satu persatu” sudah benar-benar gila, apa yang dia bicarakan? Kenapa dia menggunakan bahasa yang sulit dicerna oleh telinga telanjang? Tapi aku tetap diam menghargai usahanya untuk mengungkapkan isi hatinya. Dia menjelaskan bahwa terbaliknya penilaian itu menurutnya adalah karena kesombongannya, dan semua itu berbalik seperti di bawah ini:

1. Bossy alias suka memerintah alias malas >< berjiwa pemimpin 2. Pesimis >< Berpikir positif 3. Menang sendiri >< Pintar berargumen 4. Sombong >< Bisa menempatkan diri 5. Sinis >< Teliti menilai orang 6. Keras Kepala >< Berprinsip 7. Suka membicarakan orang >< Berkaca pada kesalahan orang lain 8. Boros >< Menikmati hidup 9. Sok tahu >< Berasumsi 10. Tidak sabaran >< Perfeksionis 11. Tidak perduli dengan orang lain >< Kurang perhatian pada sekitar

Dia melanjutkan... sepertinya akan lebih mendalam lagi
“Aku gak bisa membendung perasaan aku, betapapun aku coba tetap gak bisa. Makanya aku pergi. Untuk tau kamu udah punya tunangan, terasa seperti menumpahkan jeruk nipis di luka teriris dihatiku, tapi ya sudahlah itu harus aku hadapi. Karena itu aku pergi. Dan hari ini aku datang kesini bukan buat memohon belas kasihan dan mengharapkan cinta kamu. Tapi aku Cuma pengen kamu tahu. Itu aja” Kan.. sudah kuduga akan berakhir pahit, tak terasa air mataku menetes, deras dan semakin deras.
Ariv datang menghampiriku dan mengusap air mata yang terlanjur jatuh. Terbata-bata aku berkata “apapun yang kamu pikir tentang aku, rasa itu juga ada di aku. Juga sakit itu”.
„Aku tau... tapi aku gak akan bikin ini sulit buat kami. Kamu gak harus memilih”
„Kamu tahu?”
„ya”
„Maaf” kataku
Dia tersenyum pahit
„Bukan salah kamu, aku terlambat datang membawa cinta yang tak termiliki”
Dan dia pergi, mungkin takkan kembali. Sakit, akhirnya kita berdua sakit. Perih, hanya perih yang kurasa saat jatuh cinta dan di abaikan cinta. Meskipun aku sudah ada yang punya.

iegha-

Thursday, 18 November 2010

Falling Angels - Chapter 1 DESTINY


DESTINY


I hate a the reaper slash angel of death or whatsoever. Technically their only job is makes people sad. Not only people but all creatures in the universe. Why? Because they took the soul of some people’s lover, some people’s daughter and even enemies, the last one is better if you really realize it. You don’t need to cry when you see your enemies death. Despite of everything I hate much, here I am, a sensible Death Angel. I can handle to face it but I really want to apply another job that suitable for the sense I have if possible.

In the crowd of senseless creature, I’m the only female created or born?-we’ll find out later, the only angel who has feeling, the only angel who has a lust. Apart from me, the entire angel are frozen, they’re blind, deaf, and dumb for any forbidden thing. I, even myself cannot imagine how lonely I’m. I have no family, no female friend and no even boy friend, remember the fact that I am the only creature who has only lust. When I was in the top of these loneliness, I was tried hard to not to kill the most beautiful woman I’ve ever met to let her mate broken heart because my envious to this couple. To see them in love each other makes me thing a possibility for me to have the same fate, and to kill that woman, will make her spouse as lonely as I am, even just for a while-That’s what I hate from human, they love easily and forget easily. Besides, I will be a damn evil if I would kill any creature. What I was told to myself is that I’m not evil. I’m angel, the most cruel angel though.

Today-now, my job-which I always hate-is taking the soul of the “Evil of darkness”, at least that’s what mentioned in the “book of order”. The rumor said that he killed and murdered more than 500 people per month in 100 centuries, I don’t have any aim to count how much people did he killed but I don’t know what kind of creature he is either-realize that he lives so many years. But factually, he was killed indiscriminate, man, woman, kids, all of them in the thousands different places. I feel a little relieve because at least there’s a more damn creature than me. At least I’m not killing, I just took souls. I kept flying and searching this damn male. But still I will feel guilty to take his soul don’t care how damn he is. No body’s reserved to be died. But it’s just the matter of time. And only us, the angels who know the reason why someone needs to die. Some of them because they’re going to kill their parents when they can, some because they’ll be a murderer when it’s time that’s why we need to take their soul before its happen. So many reasons, but no matter what’s the reason, they still not deserve to die.

I imagine how this guy look. I was thinking that he must a vampire or werewolf as in myth-as per human. It was not a myth for me because I have killed-I mean took-some of their souls. I have took the first vampire creature and kind of it. They said strong and hard but it was easy for me, not because I can fight him, but because it was his time. Eventually our job-as a death angel-is just taking soul, and bring it to its place. Not split the soul from the body. Times and its Driver did it. Places of souls also based on their kindness or manner, but I never really come to their place as I just throw them away when I need to send them to the deep fire, and I will just allowed to send them until the front door when the soul should pass to heaven. And both of places has a different level. Just like an apartment or buildings, the best one should be in the top level and the worst one should be in the lowest level. But we don’t choose for them, their deeds would do it. If Evil is his call name, so what I think is he must have a really bad look as a beast or alien or whatever human can imagine. Despite of the fact that I was not a human, so what I think is just he’s not a good-looking full stop.

His light is little difficult for me to trace. Eventually I can see the soul’s light as bright as the sun and my wings will automatically spread and run to the light, but this is very dark which is I am unable to see any lights. I begin to doubt myself of this target. I am flying around to trace any sign for me to catch, but none. I double check the book of order in my left hand, correct place, correct time and correct soul? There we no due soul here. No soul should be token here as there are no soul in this dark mountain. I fully spread my wings to be focus and concentrate to find out what’s going on. Suddenly there’s a sign from the book and its posthaste open. All I can read is “Leave Now!!!” and I can’t see the rest words as a tons of things-I have no Idea what-attack my wings and make me overbalance. And I see nothing but darkness.

“Stupid angel” I heard someone murmured. I ignore the chatter as I felt so cold and hurt in my back. What? They create me to feel pain too? For any reason unexplainable? I was more than 100 years live or exist but in every instance in every second in my life was as surprising as the first year I was created. Stupid. That’s the correct designation. I’ve tried to open my eyes “What’s happen?” moaned to myself. “hahahaha!!! Hahaha!” The hard voice laugh of loud. “They send me you? The weakest and the only female-stupid-angel to take my soul? Hahaha” I don’t like the voice, unfriendly and self-prouder. The super-brightest lights dazzling my eyes and make them secondly blinded. Suddenly I realize that this is the light of soul, the light of my target. I try hard to stand upright and spread my wings, start to swelling my illumination body as I feel that my body size was decrease into a human size, maybe because of the afflicted. It’s surprisingly stuck, I can’t expand my wings. “Hey tiny, stuck on your size?” the hard voice mocked. Slowly the light fading up, strangely Its relieving me. The darkness relieving the light creature?.

“Why you call me stupid? That was not my false if I was falling away to the ground because of you” I asked him innocently. I am waiting without see him, It’s enough for my stupidity because I was failed to take his soul. I will not let him see my lightly-blue eyes. “Hmmm” I heard him chuckle as he continues “Avoid to see me?” He’d ignored my question “I knew that the angel forbidden to show their lights to others, do you have any idea why?” I shook my head. I can feel he move to where I am sitting, I can feel his breath now, I can see his soul intertwine in one beautiful light, such like pearls. I was wondering why this damn creature has such an admiring soul. Not a human soul, nor evil souls. “Because the light of your eyes will killed any human and other creatures around. They will burned because of the lights” he explained as if I know nothing about that, but I was trying not argue with this one. He continued “but unfortunately it cause nothing in me, it won’t kill me at all”. I was bit surprise that unconsciously turn up my head and meet his eyes. He chuckled to see my astonished sight. His eyes is lightly too. And I feel that I’m lost in his mesmerizing face, he is an angel, no doubt. His face is more charming, more gorgeous and more fascinating than any angel I have met. His blue eyes darker, sharper, deeper than any single creature in the universe and most unimaginable.
“Ss so are you an angel too?” I ask him in doubt. Out of fact that I knew he is.
“Technically yes”
“But?”
“But?” he ask me back with eyebrows wrinkled.
“But why the book of order mentioned that you were Evil of Darkness?” I answer
“I was actually a Dark Angel, the occupant of the darkness who took the soul of evil or practically a strong-evil creature such as demon, vampire, kind of”
“Was?”
“Yeah” his eyes pain, his face frozen while he continued “I am not this good-looking ‘till I have betrayed an order”
What does he mean? I never see anyone or anything more beautiful than him. I can’t imagine how gorgeous he is before this insurgence or whatever it is. I can see that he’s waiting “What was an order?”
“I was commanded to took a soul of a half-human new born” I shuddered “The little baby was the first in the history, her mother was so strong to keep her born alive, as if she’s not a weak human. The mother saw me when I was just step-ground and collate my wings, she beg me to save her daughter which was still in her womb. My mission is to take the soul of the two forbidden parents and the baby, but I just can’t help to skip the baby”
“why?” I asked him curiously
“Because she said that she Love me and I was curse to be with her ‘till the rest of my life” his face in pain again and chuckle in the same time
“It’s ridiculous, I will not Love the one who kill my parents”
“But you did”
We both laughing but he stops after a few second. And his face change to be a very serious mimic.
“And now, you curse yourself because of your stupidity”
“What ...??? no no... It’s not going to be... me???... the one whom you have saved?”
I don’t need his voice to find the answer of my question. I know that I’m now falling in to the deepest part for the darkness with him. At least I have parents, and I know that I’m not that weird-appeals to the entire angel I have ever met-in fact of I’m not the pure angel. Probably this is going to be the worst part of my life and existence, or could be the best. So many question singing and crumbling in my mind, but I have so much time to be with him because of the curse-or whatever. Oddly I am glad..

We’ll see...

Tuesday, 16 November 2010

Falling Away With You - Muse

I can't remember when it was good
Moments of happiness elude
Maybe I just misunderstood

All of the love we left behind
Watching the flashbacks intertwine
Memories I will never find

So I'll love whatever you become
And forget the reckless things we've done
I think our lives have just begun
I think our lives have just begun

And I'll feel my world crumbling,
I'll feel my life crumbling
I'll feel my soul crumbling away
And falling away,
Falling away with you

Staying awake to chase a dream
Tasting the air you're breathing in
I hope I won't forget a thing

Promise to hold you close and pray
Watching the fantasies decay
Nothing will ever stay the same

And all of the love we threw away
And all of the hopes we've cherished fade
Making the same mistakes again
Making the same mistakes again

I'll feel my world crumbling,
I'll feel my life crumbling
I'll feel my soul crumbling away
And falling away,
Falling away with you

All of the love we left behind
Watching the flash backs intertwine
Memories I will never find
Memories I will never find

---

See the Story Here !